Selamat Datang Di Blog Bisnis Online Terpercaya www.maslukis.com


Selasa, 17 Januari 2017

Masalah Ekonomi Masih Saja Mengkubur Mimpi Mereka Untuk Bisa Sekolah

Semua anak bangsa berhak mendapatkan pendidikan tak terkecuali anak yang tinggal di pedesaan/pedalaman, itu merupakan cita-cita yang luhur yang ditegaskan oleh negara melalui Undang-Undang Dasar 1945, yang mengartikan bahwa mencerdaskan dan melindungi generasi bangsa adalah tujuan dari kewajiban negara. Tetapi gagasan itu tidak sepenuhnya mendapat perlakuan yang sesuai dengan keinginan negara. Sehingga sering menjadi rancu penerapan di pedalaman karena pemerataan kebijakan yang tidak sesuai dengan masyarakatnya.

Sehebat apapun sistem dan strategi yang digagas oleh negara tidak akan sepenuhnya berhasil penerapannya tanpa mengetahui kebiasaan dan pola pikir yang berlaku di masyarakat itu sendiri. Sebab kebiasaan dan pola pikir masyarakat perkotaan dan desa yang telah maju akan berbeda dengan kebiasaan desa/pedalaman tentang pentingnya pendidikan yang berlakukan dengan mengatas namakan sekolah. Kebisaan dan pola pikir itu telah berkembang menjelma menjadi tantangan besar bagi negara untuk merubahnya, yang meliputi:

1. Sekolah Bukan Priotas Kepentingan Orang tua
Rendahnya tingkat sekolah dan lebih menyedihkan lagi sebagian orang tua tidak pernah menduduki bangku sekolah. Tentu ini menjadi batu sandungan bagi anak-anaknya yang menyebabkan kurangnya perhatian terhadap tumbuh kembangnya dan memberi kebebasan pola pikir untuk si anak tentang sekolah, padahal ia lupa bahwa dari pendidikan keluargalah yang menjadi pondasi anak untuk menjadi tolak ukur akan kebersilan anak itu di sekolah. Orang tua lebih mementingkan pekerjaannya dan mengabaikan perhatiannya. Mengetahui bahwa anaknya sekolah itu sudah cukup bagi orang tua. Hal demikian tentu membuat anak tidak mendapat acuan apa pentingya dan mengapa sekolah. Kemampuan pola pikir yang rendah dan mengatas namakan penghasilan yang rendah sering memberi Perlakukan orang tua terhadap anak sehingga tak jarang kebisaan orang tua mengajak anaknya bekerja. Ada pula anak yang di anggap kuat dalam bekerja orang tua merelakan untuk mencari hasil sendiri tanpa memandang usia si anak.

2. Pola Pikir Lingkungan Masyarakat
Daya pikir yang tergegas negatif yang di tuangkan dalam pernyataan telah berkembang secara turun temurun ini menjadi hambatan untuk pengukum generasi agar tidak menyelesaikan sekolahnya seperti ’’ Untuk apa sekolah, pejabat sudah banyak’’ mereka berasumsi bahwa sekolah itu untuk menjadi pejabat sehingga mereka melupakan bahwa sekolah itu adalah mendidik pola pikir dari yang tidak tau menjadi tau sehingga berkembang menjadi sebuah pemahaman bahwa dengan pendidikan dan ilmu pengetahuanlah kita memiliki tujuan yang mengarahkan hidup dan mengembangkan potensi dan bakat untuk hidup. Mereka melupakan bahwa rumah, kenderaan, pakaian, alat komunikasi dan lain sebagainya keberadaan benda itu karena pendidikan dan ilmu pengetauan.

3. Mental Ekonomi Keluarga
Pendapatan yang tak menentu setiap hari dan jumlah yang tak menentu pula bila di kalkulasikan perbulannya karena rata-rata orang desa/pedalaman itu menggantung hidunya dari alam dan perkebunan dan tak jarang pula hasil perkebunannya tak sesuai dengan mahalnya harga kebutuhan membuat mental ekonomi keluarga sering sekali mengeluh sehingga menjadi penyebab banyaknya anak yang putus sekolah. Di tengah Kebutuhan pokok yang tak tercukupi itulah orang tua mengabaikan untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.

4. Ketidaksiapan Sekolah
Menerima dan Mengatasi Kebiasaan Anak Berakhlak mulia, berbakat,berprestasi itu adalah sebagian besarnya dari tujuan anak yang terdidik dan merupakan tuntutan bagi para guru tempat anak bersekolah kedisplinan seakan menjadi patokan jaminan bagi para guru untuk menerapkannya tanpa terlebih dahulu memikirkan latar belakang anak tersebut. Tak jarang dari guru tersebut hanya menuntut tanpa mengajarinya terlebih dahulu.

Seharusnya para guru hendaknya memahami kebisaan anak sekolah diperkotan dan pedesaan/pedalaman. Perkotaan tentu bukan hal yang menyulitkan bagi para guru untuk menerapkan kedisplinan terhadap anak karena telah menjadi kebisaan orang kota yang berkutik dengan waktu ‘’ waktu adalah uang, pendidikan adalah modal’’ tetapi itu tidak berlaku di pedesaan/pedalama karena mereka hidup dengan alam yang memberi kebebasan kepada mereka tentu hal ini menjadi kebiasaan mereka bahwa kedisplinan itu seakan menjadi penghambat kebebasannya.

Seharusnya para guru hendaknya membedakan penerapan pembelajaran tanpa menghilangkan tujuan pendidikan itu sendiri dan keadilan pemerataan pendidikan dengan cara menerima kebiasaan itu terlebih dahulu bukan mengadili kebiasaan itu yang merugikan mental anak dan hukuman itu sifatnya pembelajaran bukan amarah. Kebisaan mengapa anak pedesaan/pedalaman itu sering datang sekolah terlambat, libur dan pulang sekolah bukan pada waktunya, dan kurang menghargai para guru kebiasaan bukanlah suatu yang didapat secara instan tetapi itu didapat dalam proses perkembangan keluarga dan masyarakat serta alam. Tentu bila ini dipahami oleh pihak sekolah harusnya mengatasinya dengan cara proses pula bukan penghentian hak anak sekolah sebab itu merupakan pembodohan mental.


Baca Juga:

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2018. Info Hari Ini . All Rights Reserved
Jl. Delta Raya Utara Kav. 49 - 51 Deltasari Baru, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia 61256
PT. Bimasakti Multi Sinergi